Pada kesempatan kali ini saya akan menampilkan hasil telaah Studi Kasus Penerapan CRT
Senin, 09 Juni 2025
Telaah Rancangan Pembelajaran dengan Pendekatan TaRL
Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan hasil Telaah Rancangan Pembelajaran dengan Pendekatan TaRL yag telah saya kerjakan pada tabel berikut ini :
Minggu, 08 Juni 2025
Hasil Telaah Video Pembelajaran Berdiferensiasi
Pada kesempatan ini saya akan membagikan dokumen hasil telaah video pembelajaran berdiferensiasi yang telah saya kerjakan. Berikut hasil telaah video pembelajaran berdiferensiasi saya yang disajikan dalam bentuk tabel pada dokumen berikut:
Sabtu, 07 Juni 2025
Publikasi Hasil Telaah dengan Prinsip UbD
Berikut adalah hasil telaah merancang kegiatan pembelajaran dengan prinsip UbD yang telah saya lakukan
Minggu, 24 Juni 2018
Dampak Keberadaan Liga Arab Bagi Negara-negara di Timur Tengah
Dampak Keberadaan Liga Arab Bagi Negara-negara di
Timur Tengah
Liga Arab sebagai Organisasi Internasional
antar negara-negara dengan latar belakang ras dan budaya Arab tentunya memberi
dampak terhadap perkembangan Negara-negara anggotanya, khususnya dikawasanTimur
Tengah.Sesuai dengan tujuan didirikannya Liga Arab yakni untuk mendekatkan hubungan diplomatik antar
Negara-negara Arab dengan asas persatuan. Diharapkan dapatterwujudnya
kemakmuran bagi Negara-negara anggotanya dan juga dapatterjalin hubungan yang
harmonis dan perdamaian di Negara-negara Timur Tengah. Seperti yang tertuang
dalam Piagam Liga Arab;
Dalam Piagam Liga Arab dinyatakan bahwa
Liga Arab bertugas mengkoordinasikan kegiatan ekonomi, termasuk hubungan niaga;
komunikasi; kegiatan kebudayaan; kewarganegaraan, paspor dan visa; kegiatan sosial
dan kegiatan kesehatan. Dalam piagam ini juga melarang para anggotanya untuk
menggunakan kekerasan terhadap satu sama lain. (tegerbangun366.blogspot.com)
Pada awal pembentukannya Liga Arab juga
memiliki tujuan untuk memerdekakan Negara-negara Arab yang masih dijajah.Salah
satunya Palestina yang hingga kini masih berada dalam cengkraman Israel.Dalam
perkembangan selanjutnya Liga Arab juga turut banyak berkontribusi dalam
perkembangan Timur Tengah. Dampak-dampaknya terasa dalam berbagai aspek, namun
disini akan dibahas dua aspek paling penting yakni dampak terhadap perekonomian
dan dampak terhadap situasi politik Timur Tengah.
Dampak Ekonomi
Salah satu tujuan pembentukan Liga Arab
adalah untuk membantu pertumbuhan ekonomi Negara-negara Arab.Maka dari itu Liga
Arab berupaya untuk mendorong kemajuan Ekonomi anggotanya melalui kerjasama Ekonomi
yang adil dan menguntungkan bagi Negara-negara pengikutnya.Dalam bidang Ekonomi
salah satu upayanya adalah pembentukan
perjanjian Pelaksanaan Kerjasama Ekonomi Arab ( Joint Arab Economic Action
Charter).
Jika dilihat dari sisi ekonomi, Liga
Arab merupakan suatu organisasi regional yang sangat menjanjikan bagi tiap-tiap
anggota yang masuk didalamnya. Dengan program yang dijalani, yaitu pasar
bersama, pendirian Bank Pembangunan Arab dan lain sebagainya yang berhubungan
dengan perekonomian.http://poltimteng.blogspot.co.id/2009/11/liga-arab.html Namun tentu saja masih banyak
masalah-masalah ekonomi yang harus diselesaikan Liga Arab.
Minyak merupakan sumber ekonomi terbesar
bagi Negara-negara di kawasan Timur Tengah.Namun tak semua Negara anggota Liga
Arab merupakan Negara penghasil minyak yang besar.Adapula Negara-negara yang tidak
memiliki tambang besar minyak bumi, diantaranya Mesir, Yordania, dan Tunisia.Negara-negara
tersebut kemudian mengandalkan masukan dari sektor non-minyak seperti pariwisata,
pertanian, pelabuhan dan Industrialisasi.Penduduk di negara-negara yang tidak
mengandalkan minyak sebagai penopang perekonomian masih banyak yang berada di
garis kemiskinan.Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi Liga Arab.
Sementara itu Negara-negara yang
mengandalakan sektor minyak umumna adalah Negara-negara yang secara gegrafis
berada dikawasan Teluk Arab yang kaya akan minak bumi. Diantaranya Bahrain,
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Oman.
Dampak Politik
Berikut adalah peran Liga Arab dalam
penyelesaian konflik di daerah Timur Tengah.
Peran Liga Arab dalam Penyelesaian
Konflik Israel-Palestina
Pada masa awal pembentukan Liga Arab,
masalah Palestina menjadi pokok pembahasan yang utama.Konflik Israel-Palestina
bergolak sejak diproklamirkannya Israel sebagai sebuah negara oleh David ben
Gurion pada 14 Mei 1948.Berdasarkan Deklarasi Balfour pada bulan November 1917.
Dalam deklarasi tersebut dikatakan:
“Pemerintah Inggris menyetujui didirikannya
sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan berusaha dengan sebaik-baiknya
untuk melancarkan pencapaian tujuan ini,
setelah dipahami secara jelas bahwa tidak akan dilakukan sesuatu yang dapat merugikan hak-hak sipil
dan hak-hak keagamaan komunitas non Yahudi yang ada di Palestina, atau hak-hak
dan status politik yang dinikmati oleh setiap bangsa Yahudi di negara lain” (Bakar,
2008)
Liga Arab sebagai sebuah wadah yang
mempunyai tujuan untuk kemerdekaan bagi negara-negara Arab seharusnya menjadi
sebuah harapan untuk menjadi penengah dalam konflik yang telah berlangsung lama
tersebut.Walaupun dapat dipahami ketika konflik ini mulai bergulir yaitu pada
tahun 1948, Liga Arab masih sangat muda untuk mengatasi masalah yang krusial
tersebut, usianya pada saat itu adalah 3 tahun.Liga Arab akhirnya hanya
mengandalkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelesaikan konflik
Israel-palestina.
Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr
Moussa dalam Lesly Agistania (2010) berpendapat bahwa "Hendaknya ada
perubahan dalam arah proses perdamaian, dengan menjadi penengah yang memahami kebutuhan dua pihak,
dan bukan satu pihak."
Sampai saat ini, Liga Arab masih berusaha
membantu menyelesaikan konflik antara Palestina dan Israel.Salah satu peran
yang bisa dilihat adalah keputusan Liga Arab dalam Konferensi Tingkat Tinggi di
Beirut, Maret 2002.(KTT Liga Arab di Beirut memutuskan mendukung perjuangan
rakyat Palestina).
Peran Liga Arab dalam Krisis Teluk I
Perang Irak-Iran dalam perang Teluk
disebabkan banyak faktor,salah satu yang paling penting adalah masalah historis. Meskipun berada di dekao kawasan Timur Tengah
dan mayortias penduduknya muslim, namun Iran tidak termasuk ke dalam Liga Arab.
Hal itu karena Iran bukanlah termasuk bangsa Arab, tetapi bangsa Parsi yang
sejak lama dikenal memiliki hubungan kurang harmonis dengan bangsa Arab.Hal ini
kemudian berpengaruh pula pada sikap Liga Arab terhadap Perang Teluk I.
Ketika Irak melakukan invasi ke wilayah
Iran, Liga Arab bersikap netral dengan tidak ikut campur terhadap masalah tersebut.Namun
180 derajat berubah ketika situasi perang berbalik menguntungkan Iran. Ketika
pasukan Irak mulai terjepit dan Iran mengancam akan meruntuhkan pemerintahan
Saddam Husein maka Liga Arab merasa harus ikut campur dalam urusan ini, karena
hal itu menyangkut kedaulatan Negara anggotanya. Bantuan dana bahkan diberikan oleh
beberapa Negara sahabat Irak didalam Liga Arab.
Peran Liga Arab dalam Krisis Teluk II
Invasi Irak ke Kuwait menimbulkan
reaksi dunia Internasional.Liga Arab dalam konferensi di Kairo mengeluarkan
pernyataan bahwa Irak harus segera menarik mundur pasukannya dari Kuwait.Pada tanggal
8 Agustus1990 As, Inggris, Prancis, Australia dan Negara Liga Arab melakukan operasi
Perisai Gurun (Desert Shield Operation).Operasi ini belum melakukan penyerbuan terhadap
Irak di Kuwait barulah sejak 17 Januari
1991, operasi diubah menjadi operasi Badai Gurun (Desert Storm Operation)
dibawah Jendral Norman Schwarzkpf (AS).(www.penasejarah.com) Serangan militer secara besar-besaran
tersebut akhirnya mampu melumpuhkan kekuatan militer Irak hingga memaksa
Presiden Saddam Husein untuk memerintahkan pasukannya mundur dan menyepakati
gencatan senjata.Irak pada akhirnya menerima semua saratyang diajukan pihak
sekutu dan Liga Arab.
Peran Liga Arab dalam Krisis Teluk III
Selama perang Teluk I memang Saddam
mendapat bantuan ekonomi dan militer besar-besaran dari Amerika Serikat dan
juga Uni Soviet, Perancis dan Inggris.Tetapi bantuan itu semata-mata karena
khawatir terhadap ancaman Revolusi Islam rezim Khomeini.Karena itu bagi Amerika
Serikat dan sekutu dari Baratdan Arab kemungkinan kekalahan Baghdad pada perang
Irak Iran harus dicegah sekuattenaga. (Nur Ika Hening Wijayanti, 2006: 65,
Skripsi)
Karena itulah ketika kepentingannya
bersama Irak telah usai Amerika tak memiliki lagi kepedulian terhadap Negara itu. Kemudian ketika Amerika merasa terancam dengan kekuatan Irak,
Amerika mulai mencari-cari alasan untuk menyerang Irak. Upaya legitimasi dari
PBB terus diusahakan Amerika dengan mengajukan beragam alasan.Namun takada satupun
yang dapat diterima. Bahkan hingga Amerika melakukan invasi ke Irak pada 2003
dunia Internasional mengecam serangan tersebut karena Amerika tak memiliki
alasan yang kuat atas tindakannya itu. Alasan yang diajukan Amerika sangat
mengada-ada dan terlihat jelas tak masuk akal dan tidak terbukti.Namun dunia Internasional
tak dapat mencegah tindakan Amerika yang memiliki kekuasaan superior itu.Bahkan
Liga Arab pun tak berkutik dan hanya bisa menjadi penonton.
Peran Liga Arab dalam Penyelesaian
Konflik Suriah
Peran liga Arab dalam penyelesaian
konflik Suriah dilansir dalam media Antara News (25/4) menyatakan bahwa pemerintah
Suriah, Rabu (24/4), menolak peran apa
pun oleh Liga Arab dalam penyelesaian krisis di negerinya, dan menyatakan
Damaskus akan berhubungan dengan Utusan Gabungan PBB-Liga Arab Lakhdar Brahimi
hanya sebagai wakil PBB. "Suriah telah bekerjasama dengan Brahimi dan akan
terus melakukan itu dalam konteks dia hanya sebagai utusan PBB, sebab Liga Arab
memihak persekongkolan melawan Suriah," kata
Kementerian Luar Negeri Suriah, sebagaimana dilaporkan Xinhua.
Peran Liga Arab sebagai organisasi
regional sebenarnya sangat diharapkan dalam penyelesaian konflik ini.Namun
demikian, kewenangan yang terbatas membuat Liga Arab seakan mandul dalam
membantu Suriah menemukan jalan keluar dari konflik berkepanjangan yang mereka
hadapi. Peran Liga Arab mulai muncul ketika pada konferensi terakhir di Doha,
Qatar, Liga Arab memberikan kursi perwakilan Suriah kepada pihak oposisi,
bukannya kepada rezim Assad yang secara administratif masih memiliki legitimasi
sebagai pemerintahan di Suriah. Hal ini lalu menggiring pada pertanyaan menarik
mengenai apa sebenarnya motif di balik
sikap Liga Arab tersebut. (Middle East Studies Indonesia, 2013) Maka dalam hal
ini Liga Arab seperti tidak punya power untuk memaksa ataupun mengintervensi
masalah ini. Akibatnya, mereka hanya nampak seperti penonton saja. Liga Arab hanya bisa bertindak
di luar konflik dan di luar Suriah.
DAFTAR PUSTAKA
Bakar, A. (2008). Berebut Tanah Suci
Palestina. Yogyakarta: Insan Madani. Azhari, D. I.
Pengaruh Pan Arabisme terhadap
Efektivitas Liga Arab. Jurnal Ilmiah. Lesly, A. (2010).
Nn. (t.t) Peran Liga Arab dalam
Penyelesaian Konflik perselisihan Israel-Palestina. [online] tersedia:
http://diplomacy945.blogspot.com/2010/06/peran-liga-arab-dalam-penyelesaian.htmlhttp://politik.kompasiana.com/2012/12/09/israel-
palestina-dan-pan-arabisme-baru-sejarah-tanah-berdarah-514601.html. Diakses
pada tanggal 7 April 2016.
Middle East Studies
Indonesia.(2013).Liga Arab dan Konflik Suriah.http://middleeasti
ndonesia.wordpress.com/2013/06/10/resume-diskusi-liga-arab-dan-konflik-suriah/
Wibisono, K. (2013).
Liga Arab dan Konflik Suriah.[online]
tersedia: http://www.ant
aranews.com/berita/371174/suriah-tolak-peran-liga-arab-dalam-penyelesaian-krisis.
Diakses pada tanggal 7 April 2016.
Nn. 10 Februari 2010.Organisasi Regional:
Liga Arab (Leuge of Arab States). [Online].Diakses tanggal 7 April 2016.
Nn. Rabu 4 November 2009. Liga Arab.
[Online].Diakses tanggal 7 April 2016.
Nur Ika Hening Wijayanti. 2006. Intervensi Amerika
Serikatterhadap Irak dalam Perang Teluk III Tahun 2003.Skripsi.FKIP. UNS
Pemilu
1982 dan Pemilu 1987
Pemilu 1982 dan
Pemilu 1987 merupakan salah satu dari perhelatan akbar setiap
5 tahun untuk memilih wakil rakyat atau Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat I Provinsi
maupun DPRD Tingkat II Kabupaten/Kotamadya se-Indonesia.
Pemilu pada
masa Orde Baru bisa disebut hanya menjadi formalitas belaka untuk melegitimasi
kekuasaan rezim diktator yang berkuasa.
Soeharto yang sangat menganggungkan Pancasila menampilkan dirinya sebagai tokoh
kesatria yang selalu membela dan menjaga keutuhan Pancasila, karena dirinya
dapat naik ketampuk kekuasaan dengan menjadikan pembelaan terhadap Pancasila
sebagai batu loncatan. Maka figure
dirinya yang ingin ditampilkan pun adalah sebagai kesatria pembela Pancasila,
jadi jika ia melanggar dasar Negara maka
ia merusak citra dirinya. Karena itu Soeharto tetap mengikuti aturan yang
berlaku dengan mengadakan Pemilu. Tetapi Pemilu pada masa Orde Baru di desain
untuk selalu memenangkan Rezim yang berkuasa. Lawan-lawan politiknya
dikerdilkan agar tidak menjadi ancaman serius. Caranya adalah dengan
mengeluarkan kebijakan-kebijakan dan peraturan. Terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang dibuat untuk
menjalankan kepentingan rezim Orba. Salah satu kebijakan yang dibuat pemerintah
adalah Asas Tunggal Pancasila, kebijakan yang menerapkan Pancasila sebagai satu-satunya
asas atau ideologi ini mendapatkan kritikan dan banyak pula yang setuju dan
tidak setuju.
Kebijakan asas tunggal tidak hanya
satu-satunya kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru, ada beberapa
kebijakan sebelum asas tunggal yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru. Awal
sebelum dicetuskan Asas
tunggal dibuat kebijakan fusi partai, tahun 1973 pemerintah mengambil kebijakan
penyederhanaan partai. Menurut banyak perwira Angkatan Darat, sistem banyak partai merupakan faktor penghambat tercapainya konsensus nasional tentang dasar serta
tujuan negara. Menurut pendapat yang pro fusi partai bahwa partai-partai hanya
melakukan oposisi demi kepentingannya dan kurang memperhatikan program-program
pembangunan. Karenanya, kebijakan penyederhanaan partai merupakan alat yang
efektif untuk mengontrol partai dan memusatkan kekuaaan ditangan penguasa. Fusi
ini juga diharapkan akan menjadikan nkekutaan partai lawan menjadi
mandul.”Proses pemandulan parpol tidak hanya akibat faktor eksternal –berupa
rekayasa dan campur tangan pemerintah terhadap urusan-urusan internal
organisasi, tetapi juga saling terkait dengan faktor internal seperti lemahnya
kesatuan organisasi, dan yang terpenting adalah lemahnya kualitas anggota”
(Haris, 1998 : 163).
Sejak Golkar lahir memang tidak lepas
dari peran militer. Apabila hubungan ABRI dengan PPP dan PDI lebih banyak
diwarnai dengan intervensi terutama yang menyangkut suksesi kepemimpinan partai
dan masa-masa kampanye pemilihan umum, hubungan ABRI dan Golkar lebih banyak bersifat simbolis mutualisme
(saling menguntungkan). Bahkan dalam sturuktur politik yang di bangun selama
masa Orde Baru dapat dikatakan bahwa hubungan ABRI dan Golkar tak terpisah. Hal
ini dapat di pahami karena ABRI-lah yang membidani kelahirannya Golkar.
Selain mendominasi kepengurusan
DPP Golkar dan menjadi sumber dana bagi Golkar, dukungan militer terhadap
Golkar juga tercermin dalam banyaknya penggunaan kekerasan politik (intimidasi)
oleh aparat militer pada masa dalam pelaksanaan pemilu 1977. Kekerasan politik
yang dilakukan oleh ABRI pada pemelihan umum pada tahun 1971 dan tahun 1977
sangat menonjol jika dibandingkan dengan pemilu yang dilaksanakan pada periode
berikutnya.
Penerapan Asas Tunggal Pancasila
baru disahkan pada 1985 dan penerapannya dalam politik praktis dimulai dalam
Pemilu 1987. Penerapan Asas Tunggal Pancasila bertujuan untuk melemahkan
kekuatan Islam. Pada Pemilu 1982 pemerintah memang berhasil mereduksi jumlah
peserta pemilu, namun fusi kepada golongan Islam ternyata justru memberi jalan
bagi kekuatan-kekuatan Islam untuk bersatu, maka dari itu pemerintah berusaha
untuk memecah konsolidasi persatuan kekuatan Islam ini dengan menyusutkan
pengaruh ideologi Islam dalam tubuh partai Islamnya itu sendiri dan
menggantikannya dengan spirit
Pancasila.
Kesimpulannya baik Pemilu 1982
maupun pemilu 1987 merupakan hasil kongkrit dari kesuksesan Rezim Soeharto
dalam mengamankan kekuasaanya. Pada Pemilu 1982 pemerintahan menggunakan
strategi fusi partai untuk mengkerdilkan kekuatan lawan-lawan politiknya.
Secara tidak langsung tujuan fusi ini selain untuk mereduksi jumlah partai
peserta Pemilu tetapi juga untuk mengadu domba beberapa kekuatan serupa yang
ada dalam satu wadah partai yang sama, sehingga meskipun satu partai terdiri
dari satu persepsi tetapi memliki ideology dasar yang berbeda. Hal tersebut
sukses diterapkan pada PDI yang kekuatannya tak begitu mencuat namun justru
menjadi boomerang ketika diterapkan pada partai Islam karena justru PPP menjadi
semakin solit dengan kekuatan Islam yang disatukan. Maka untuk melemahkan
kekuatan Islam pemerintah mengeluarkan kebijakan Asas Tunggal Pancasila dimana
seluruh partai dipaksa untuk menjadikan Pancasila sebagai asas atau ideologi
partainya. Hal ini tidak hanya berlaku pada partai politik tetapi juga untuk
semuluruh organisasi di Indonesia. Hasilnya pada Pemilu 1987 PPP mengalami
penyusutan suara yang signifikan.
Peristiwa Tanjung Priok
Peristiwa Tanjung Priok
Dalam makalah
disebutkan bahwa Tanjung Priok
adalah salah satu wilayah basis Islam yang kuat di Jakarta.
Maka tingkat fanatisme Islam disini sangat kental sekali. Peristiwa Tanjung
Priok adalah pelanggaran HAM yang dilakukan aparat keamanan pada tanggal 12
September 1984 dalam upaya membubarkan demonstrasi yang terjadi di Tanjung
Priok. Peristiwa ini diawali oleh tindakan oknum ABRI, bernama Sersan Satu
Hermanu yang mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet atau brosur
berbau ‘SARA’ yang memuat politik menentang pemerintah. Memang pada masa Orba
peran militer dalam kehidupan masyarakat sangat dominan, mulai dari
perpolitikan nasional sampai dengan wilayah pedesaan semuanya selalu dihiasi
dengan kehadiran dan keikutsertaan militer. Tujuannya adalah untuk
melanggengkan pemerintahan dari rezim yang berkuasa yang berasal dari kalangan
militer, yakni rezim Soeharto atau yang lebih dikenal rezim Orde Baru.
Peristiwa tanjung
Priok adalah salah satu contoh dari sekian banyak perisitwa berdarah di negeri
ini yang terjadi pada masa Orde Baru dimana militer memiliki andil besar dalam
mengakibatkan peristiwa tersebut menjadi begitu pelik dan menimbulkan banyak
korban. Perisitiwa Tanjung Priok adalah pelanggaran HAM yang terjadi akibat
dari sistem politik yang dibentuk oleh Soeharto dimana militer diberi kebebasan
dan kekuatan untuk ikut campur dalam segala sisi kehidupan masyarakat sipil.
Pada masa awal
pemerintahannya sampai pada pertengahan pemerintahannya Soeharto dikenal tidak terlalu
dekat dengan golongan Islam. Hal itu dapat tercermin diantaranya pada penerapan
asas tunggal Pancasila yang dipaksakan kepada seluruh ormas dan partai Islam.
Akibatnya hubungan anatar rezim penguasa dengan golongan Islam menjadi semakin
renggang. Bahkan penerapan Asas Tunggal Pancasila ini member dampak pada
peristiwa ini, seperti yang dikatakan oleh Fatwa (2005 : 173) bahwa “secara
tidak langsung penolakan masyarakat terhadap Asas Tunggal Pancasila inilah yang
menyebabkan memanasnya situasi”. Rezim Orde Baru adalah rezim yang berlindung
pada kekuatan kepitalis barat, maka itu sangat sekuler. Ideologi Islam dianggap
sebagai ancaman serius bagi kelangsungan rezim Soeharto.
Perisitiwa Tanjung
Priok diawali oleh peristiwa kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan secara
musyawarah, namun menjadi besar karena arogansi militer yang tidak mau mengalah
ditambah fanatisme tinggi dari massa yang menjadi korban. Sikap kedua pihak
tersebut terbentuk dari suhu politik yang diciptakan di kalangan pejabat tinggi
dan tokoh – tokoh nasional. Seperti yang telah dijelaskan diatas keajdian di
perpilitikan nasional yang memberi dampak pada peristiwa ini yakni ide mengenai
pemberlakukan penerapan Asas Tunggal Pancasila dan Dwi fungsi ABRI yang memberi
ruang bagi militer untuk mengobok-obok kehidupan masyarakat sipil. Fakitor
ketiga yakni dominasi ekonomi dari segelintir golongan yang mengakibatkan
kecemburuan sosial, sedang pemnerintah pun dianggap lebih pro dan menguntungkan
segelintir golongan tersebut, yakni golongan kapitalis Barat dan China. Rakyat menganggap bahwa pemerintah
tidak lagi memihak kepada rakyat, maka sikap apatis kepada aparat pun muncul.
Jadi kesimpulannya
peristiwa Tanjung Priok adalah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat
militer dan merupakan dampak sosial secara tidak langsung dari kebijakan
politik pemerintah pada masa Orde Baru yang seringkali menekan kehendak rakyat
yang tidak sesuai dengan kepentingan rezim. Untuk kasus ini yang menjadi
pemicunya adalah kebijakan asas tunggal Pancasila.
Kamis, 21 Juni 2018
Peradaban Sungai Gangga dan Sejarah Agama Hindu
Bangsa Arya dikenal sebagai bangsa nomaden yang sering
berkelana. Kehidupan mereka didominasi oleh kegiatan berternak daripada
bertani. Bangsa arya juga adalah bangsa yang senang mengembangkan seni berperangnya,
sehinga tak jarang dalam perkelanaannya mereka melakukan penaklukan terhadap
bangsa lain.
Bangsa Arya memasuki India
melalui celah Khyber dan melakukan kontak fisik dan budaya dengan bangsa
Dravida yang telah membentuk peradaban tinggi dilembah sungai Indus. Di sana
kemudian Bangsa Arya terus menyebar hingga memasuki wilayah sungai Gangga.
Dipinggiran sungai Gangga inilah kemudian berkembang peradaban baru yang
disebut peradaban Sungai Gangga dengan bangsa pendukungya adalah bangsa Arya.
Peradaban bangsa Arya muncul di sungai Gangga Karena faktor
alamnya yang lebih memungkinkan untuk ditaklukan dibandingkan sungai Indus
ketika meeka mencapainya. Daerah sungai Indus saat itu telah menjadi kawasan
yang gersang dan sering terjadi banjir, hal itu disebabkan oelh ekspoitasi alam
secara besar-besaran oelh bangsa Dravida selama beberapa generasi utnuk
membangun peradaban Mohenjodaro dan Harappa.
Dari asalnya bangsa Arya telah membawa ajaran Weda yang
kemudian bersinkretisme dan berakuluturasi dengan kepercayaan dan budaya bangsa
Dravida. Perpaduan antara bangsa Arya dan bangsa Dravida kemudian akan
membentuk bangsa baru yang menamakan dirinya Bangsa Baratha, dari sanalah kita
mengenal epic Baratha dan bahkan nama itu menjadi nama resmi Negara India
hingga kini, yakni Republik Baratha.
Tahapan perkembangan agama bangsa India terbagi menjadi
beberapa fase, yakni :
1)
Weda.
Lebih menekankan kepada pembacaaan kitab-kitab Weda. Adapun
kitab Weda dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
·
Reg Weda , berisi sayir-syair pemujaan dewa-dewa.
·
Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian untuk pemujaan para
dewa.
·
Yayur Weda, memuat bacaan-bacaan yang dipergunakan untuk
keselamatan.
·
Atharwa Weda, memuat ilmu sihir untuk menghilangkan mara
bahaya.
2)
Brahmana
Lebih menekankan kepada upacara keagamaan yang memberi
sesajen atau pengorbanan bagi para Dewa. Pada fase ini dominasi kaum Brahmana
lebih besar.
3)
Upanishad.
Secara terminologi artinya duduk menghadap. Ajaran ini
merupakan bentuk perlawanan terhadap ajaran fase Brahmana dimana kaum Brahmana
memonopoli agama. Ajaran Upanishad menekankan kepada semedi atau kontemplasi
diri, salah satu bentuk ajarannya yakni Yoga.
4)
Budha
Budha adalah perkembangan dari ajaran Upanishad. Ajaran ini
dicetuskan oleh Sidarta Gautama yang merupakan seorang pangeran dari kerajaan
Kapliwastu.. Inti ajaran agama Budha adalah bahwa hidup adalah penderitaan,
penderitaan ada karena nafsu. Agar terbebas dari penderitaan maka harus
menghilangkan nafsu, yakni dengan cara menempuh 8 jalan kebenaran.dalam
ajarannya Budha tidak pernah menyentuh soal-soal ketuhanan dan lebih banyak
mengajarkan kepada falsafah kehidupan. Adapun Tuhan dalam agama Budha dikenal
dengan konsep;
Asatang – tidak berawal
Ajatang – tidak berakhir
Abutang – tidak beranak
Asamkatang – tidak diperanakan
5)
Hindu
Dewa-dewa direduksi jumlahnya. Dikenal konsep Trimurti;
tiga dalam satu.
Brahma : Dewa pencipta. Istrinya Dewi Saravasti : Dewi
Kesenian
Wisnu : Dewa pemelihara Istrinya Dewi Laksmi/ Sri : Dewi
kesuburan
Syiwa : Dewa penghancur istrinya Dewi Durga : Dewi kematian
Sumber :
Ari, Listiyani, Dwi. 2009. Sejarah
untuk SMA/MA kelas X. Jakarta : Pusat perbukuan, Departemen Pendidikan
Nasional.
Aizid, Rizem. 2014. Kitab Sejarah
Terlengkap Peradaban-peradaban Besar Dunia; Dari Sebelum Masehi hingga Modern.
Jogjakarta : Penerbit Laksana.
Dalal, Anita. 2011. Arkeologi
Menguak Masa Lampau India Kuno. Jakarta : National Geograpich Society.
Peradaban Lembah Sungai Indus
Peradaban Lembah Sungai Indus
·
Letak Geografis.
Jika
dilihat dari peta wilayah kini, peradaban lembah sungai Indus berada berada di wilayah Negara Pakistan. Peradaban
Sungai indus adalah tipe peradaban sungai, artinya muncul dari masyarakat yang awalnya
mendiami sepanjang pesisir sungai indus.
Manusia pendukung
Manusia
Pendukung peradaban ini adalah dari ras Austroloid dengan ciri fisik bertubuh
pendek, kulit hitam, hidung pesek, bibir tebal, dan berbadan tegap.
·
Peninggalan sejarah
Peninggalan
sejarah yang terpenting dari peradaban ini dalah penemuan bekas reruntuhan dua
kota besar yang ada di sekitar sungai Indus. Kota tersebut dikenal dengan
Mohenjodaro dan Harappa. Dari sana juga ditemukan beberapa peninggalan
arkeologis lainnya seperti arca, stempel, dan tulang belulang manusia
·
Penyebab keruntuhan
Muncul
beberapa Teori mengenai keruntuhan peradaban lembah sungai Indus, diantaranya :
1)
Bencana Alam
Diduga hancur oleh bencana alam gempa bumi atau gunung meletus karena letaknya yang berada dibawah kaki gunung.
2)
Wabah penyakit
Tim ilmuwan yang terlibat dalam penelitian membuktikan adanya trauma
dan penyakit menular yang terlihat jelas pada kerangka manusia yang diambil
dari tiga pemakamn di kota Harappa, Diantaranya penyakit menular kusta dan TBC.
3) Serangan dari bangsa lain.
Bangsa
yang diduga menyerang dan menghancurkan peradaban ini adalah bangsa Arya yang
dari barat melalui celah Khyber. Bangsa Arya dikenal sebagai bangsa nomaden
yang suka menaklukan wilayah yang ditemuinya. Bukti pendukung teori ini adalah
dari penelitian terhadap tulang belulang ditemukan bayak bukti kekerasan yang
dialamai. Selain itu dalam kitab weda
juga disebutkan mengenai bagsa yang
ditaklukan ialah dasyu atau tidak
berhidung.
Rabu, 20 Juni 2018
Muqadimah

Okey jadi sesuai judul blog ini "Semua ada sejarahnya kecuali Tuhan". Jadi blog ini adalah tulisan-tulisan tentang sejarah, dan semua hal yang diciptakan di dunia ini paasti ada sejarahnya. sejarah munculnya, sejarah berkembangnya, sejarah mengapa bisa ada dan tercipta. Semuanya ada cerita sejarahnya, kecuali Tuhan.
Karena Tuhan Sang Pencipta Sejarah...
Selasa, 19 Juni 2018
Penerapan Model CTL Dalam Pembelajaran Sejarah
Penerapan Model CTL Dalam
Pembelajaran Sejarah
I.
Pendahuluan
1.
Latar Belakang Masalah
Kegiatan belajar mengajar
merupakan kegiatan penting dan paling utama di sekolah, disamping proses
pendidikanyang berlangsung di luar kelas, karena itu proses belajar mengajar
selalu menjadi perhatian. Pengembangan kegiatan belajar mengajar di sekolah
telah lama diupayakan, baik itu oleh pemerintah maupun para pegiat pendidikan,
baik di Indonesia atau diluar negeri. Paradigma lama mengenai kegiatan mengajar
hanyalah memandangnya sebagai proses transfer pengetahuan dari guru ke murid.
Padahal mengajar lebih dari sekedar memberi pengetahuan ataupun memberi
penjelasan kepada murid di depan kelas. Menurut Jean Piaget belajar lebih dari
sekedar transfer pengetahuan dari guru
ke murid. Tapi di dalamnya juga berperan faktor subjekif siswa, yakni proses
berfikir siswa dalam mengembangkan pemahamannya.
Penjelasan yang menyatakan bahwa mengajar adalah
sama dengan bertutur (telling) sudah tidak dapat diterima oleh para ahli
pendidikan dewasa ini sebab para peneliti di bidang psikologi tentang belajar
mengajar telah menemukan sesuatu yang baru mengenai konsep mengajar.
Konsep lama mengenai mengajar yaitu
menyampaikan informasi belaka sudah ditinggalkan, sebab dengan hanya sekedar
menyampaikan informasi kepada siswa berarti baru menyentuh sebagian kecil saja
dari tugas mengajar yang sebenarnya.menurut konsep modern tentang mengajar
adalah hal yang menyebabkan siswa belajar dan memperoleh pengetahuan yang
diharapkannya, keterampilan, dan juga cara-cara yang baik dalam hidup di
masyarakat. (Wahab, 2009:6)
Dari penjelasan diatas
dapat kita tarik kesimpulan bahwa mengajar dengan metode ceramah saat ini sudah
ketinggalan zaman dan kurang efektif. Sementara metode ceramah dianggap sudah
tidak relevan dengan perkembangan zaman, maka bermunculanlah macam-maca model
pembelajaran yang baru. Salah satunya Contextual learning.
Selama ini
pemebelajaran sejarah selalu identik dengan pelajaran yang isinya penuh dengan
crita-cerita sehingga seolah-olah model atau metode yang tepat dan praktis
untuk digunakan adalah metode ceramah. Padahal pemebelajaran sejarah dengan
model tersebut selama ini dianggap membosankan oleh peserta didik.maka itu
harus digunakan model pembelajaran yang lebih modern, dalam pembahasan makalah
ini akan dipilih model CTL atau Contextual Teaching and Learning.
2.
Rumusan Masalah
Dari pembahasan diatas maka
disusunlah rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
memilih pendekatan, strategi, dan model
pembelajaran saat menyusun rencana pembelajaran?
2. Bagaimana bentuk dan penerapan dari model CTL atau
Contextual Teaching Learning?
3.
Bagaimana penerapannya dalam pembelajran
sejarah?
II. Pembahasan
1. Memilih pendekatan, strategi dan
model
Sebelum melakukan
pembelajaran di kelas seorang guru harus membuat perancanaan pembelajaran yang
baik agar pelajaran menjadi terarah dan efisien. Di dalam rencana pembelajaran
terdapat model, pendekatan, strategi dan metode, keempatnya saling terkait dan
menjadi desain utama dalam suatu rancangan pembelajaran.
Dalam memilih pendekatan, startegi
dan model pembelajaran harus disesuaikan dengan dasar filosofis dan tujuan pendidikan Nasional. Setiap bangsa
dan negara memiliki nilai – nilai filosofis yang berbeda baik dalam dasar
Negara maupun mental dan sikap bangsa. .“Perbedaan filsafat dengan sendirinya
akan menimbulkan perbedaan dalam tujuan pendidikan, jadi juga bahan pelajaran
yang disajikan, mungkin juga cara mengajar dan menilainya” (Nasution, 2009 hlm
11). Maka pembelajaran di sekolah-sekolah di Negara Indonesia haruslah
berdasarkan dasar Negara Indonesia. Dasar Pendidikan di Indonesia telah diatur
dalam Pasal 2 Undang Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional bahwa “Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia Tahun
1945” (dalam Ruhimat, 2006 hlm 214). Maka guru, dalam memilih pendekatan,
strategi dan model pembelajaran harus mengandung nilai-nilai Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945
Dalam kegiatan belajar
mengajar di kelas, terjadi interaksi antara guru dengan para siswa dan antara
siswa dengan siswa lainnya. Proses sosialisasi terjadi di kelas antar
individu-individu yang berbeda. Dalam proses sosial yang terjadi tersebut semua
individu saling berinteraksi untuk membahas satu topik yang sama dalam satu
pola yang sama yang telah ditentukan oleh guru. Pola tersebut terbentuk dalam
pendekatan strategi dan metode belajar. Dalam memilih pendekatan pembelajaran
guru harus mempertimbangkan kondisi siswa dan lingkungan tempat belajar. Selain
itu juga disesuaikan dengan materi yang akan dibahas. Di dalam buku strategi
belajar mengajar yang ditulis oleh Djamarah dan Zain (1997), terdapat berbagai
macam pendekatan diantaranya ; pendekatan individual, pendekatan kelompok,
pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif, pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan,
pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan
keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.
Pemilihan strategi dan
metode pembelajaran tak kalah pentingnya. Strategi pembelajaran adalah “pola-pola umum kegiatan
guru-anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai
tujuan yang telah digariskan”(Djamarah dan Zain 1997 hlm 5). Sedangkan metode
mengajar ialah “cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan
siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”(Sudjana, 1998 hlm 76). Dalam
pemilihan pendekatan strategi dan metode disesuaikan dengan beberapa hal
sebagai berikut;
1) Tujuan
pembelajaran atau tujuan pendidikan yang ingin dicapai
2) Peranan
guru dan siswa yang diharapkan dalam mencapai tujuan pembelajaran
3) Karakterisitik
mata pelajaran atau bidang studi
4)
Kondisi lingkungan belajar, yaitu
keadaan lingkungan serta sarana dan waktu pembelajaran yang tersedia. (Ruhimat,
2006 hlm 216)
2. Model Pembelajaran Kontekstual
(CTL)
Pengalaman
adalah guru yang baik. Karena itu kita harus belajar dari pengalaman. Seperti
yang dikatakan Djamarah dan Zain (1997 hlm 70), “Pengalaman adalah guru yang
tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapapun juga. Belajar dari pengalaman
adalah lebih baik daripada sekadar bicara, dan tidak pernah berbuat sama
sekali”.
Model CTL atau Contextual Teaching and Learning membawa
pengalaman kedalam pengajaran di kelas dimana guru mengaitkan antara materi
yang dipelajari di kelas dengan konteks kehidupan siswa sehari – hari. “Dalam
pembelajaran kontekstual ada tujuh prinsip pembelajaran yang harus dikembangkan
oleh guru, yaitu : 1) konstruktivisme, 2) menemukan (Inquiry), 3) bertanya, 4) masyarakat belajar, 5) pemodelan, 6)
refleksi, dan 7) penilaian sebenarnya” (Ruhimat, 2006 hlm 206).
a)
Konstruktivisme
“Konstruktivisme merupakan landasan berfikir
(filosofi) dalam pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas” (Ruhimat,
2006 hlm 206). Jadi pada tahap konstruktivisme ini guru memberikan bekal
pengetahuan mengenai seperangkat fakta, konsep dan teori yang menjadi landasan konten pembelajaran yang akan dibahas. Bekal
pengetahuan tersebut untuk mengkonstruksi pengetahuan siswa. “Dalam belajar
konstruktivistik guru atau pendidik berperan membantu agar proses
pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar”(Budiningsih, 2005 hlm
59).
b) Inquiry
(Menemukan)
Setelah siswa diberi landasan penegtahuan sebagai
modal mereka berfikir, kemudian pembelajaran masuk ke dalam tahap
inquiry/menemukan. Menemukan merupakan tahapan inti dari pendekatan CTL. Dalam
tahapan ini siswa diberi kesempatan untuk menegmbangkan penegtahuannya melalui
proses belajar mandiri. Siswa ditantang untuk mencari dan menemukan
pengetahuan-pengetahuan baru dan mengembangkan pemahamannya mengenai konten
yang sdang dibahas. “artinya proses inquiry mengandung proses-proses mental
yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen,
melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan
dan sebagainya”(Suryosubroto, 1997 hlm 193).
c) Bertanya
Dalam proses siswa melakukan inquiry tentu akan ada
hal-hal yang kurang dimengerti oleh siswa, karena itulah siswa diberi
kesempatan untuk bertanya. Tugas guru adalah membimbing siswa melalui
pertanyaan yang diajukan untuk mencari dan menemukan kaitan antara konsep yang
dipelajari dalam kaitan dengan kehidupan nyata. “Sebab itu tugas mengajar ialah
membina rangkaian pengalaman yang dapat menjadi sumbu pengetahuan dan
keterampilan pelajar”(Surakhmad, 1979 hlm 52)
d) Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Maksud dari masyarakat belajar adalah kondisi proses
belajar dikelas dalam suasana diskusi antar siswa. Menciptakan masyarakat
belajar di kelas adalah tugas guru, dan kondisi seperti itu hanya dapat
dilakukan oleh guru yang kreatif. Menurut Sudjana (1998 hlm 79) “diskusi adalah
“tukar menukar informasi, pendapat, dan unsure-unsur pengalaman secara teratur
dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan elbih
teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan
bersama”.
e) Pemodelan
(Modeling)
Tahap pembuatan model dapat dijadikan alternatif
untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara
menyeluruh, dan membantu keterbatasan yang dimiliki oleh para guru (Ruhimat
2006 hlm 211).
f) Refleksi
(Reflection)
Refelksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru
terjadi atau baru saja dipelajari. Dengan kata lain, refleksi adalah berpikir
ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa
mengedepankan apa yang baru dipeljarinya sebagai struktur pengetahuan yang
baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya
(Ruhimat, 2006 hlm 212)
g) Penilaian
Sebenarnya (Authentic Assesment)
Dalam setiap model pembelajaran tentu harus ada
tahap penilaian atau evaluasi. Evaluasi penting untuk mengukur tingkat
keberhasilan belajar siswa. Witherington dan Burton (1986) mengatakan bahwa,
“evaluasi atau penilaian terhadap pekerjaan di sekolah hendaknya merupakan
suatu diagnosis yang lengkap. Suatu evaluasi yang lengkap tentang usaha
mempelajari suatu mata pelajaran harus menyinggung berbagai aspek dari tingkah
laku murid”.
3. Penerapan Model CTL Dalam
Pembelajaran Sejarah
Banyak orang
mungkin akan kebingungan bagaimana melakukan pembelajaran model kontekstual
terhadap materi pembelajaran sejarah yang kajiannya adalah masa lalu, sedangkan
model kontekstual adalah model yang menghubungkan antara konteks kehidupan
siswa saat ini dengan materi pembelajaran yang dipelajari. Namun sesungguhnya
hal itu bisa dilakukan, jika guru tersebut kreatif dan mau berfikir.
Penerapan Model Contextual Teaching and Learning (CTL)
dalam pembelajaran sejarah contohnya dalam materi mengenai zaman pra sejarah.
Dalam materi mengenai hasil-hasil kebudayaan zaman pra sejarah guru dapat
mengaitkan mengenai konsep bangunan punden berundak yang merupakan budaya asli
nenek moyang Indonesia dengan bangunan yang ada disekitar lingkungan siswa.
Bangunan yang
sangat akrab dilihat setiap hari oleh siswa salah satunya masjid. Bangunan
masjid di Indonesia memiliki cirri khas yakni menggunakan bentuk punden
berundak pada atapnya. Dengan begitu siswa dapat memahami mengenai warisan
budaya lokal yang masih terjaga hingga kini dan menjadi ciri khas arsitektur
bangunan yang ada di Indonesia.
III. Kesimpulan
Sebagai tenaga pendidik
guru harus memiliki kreatifitas dalam merancang suatu pembelajaran sejarah yang
menarik bagi siswa. Agar penerapan pembelajaran sejarah lebih menarik, guru
dapat memilih model-model pembelajaran yang saat ini lebih banyak dan beragam
ditawarkan. Salah satunya Contextual Teaching and Learning. Penerapan model ini
menghubungkan materi pembelajaran di kelas dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari.
Dalam pembelajaran sejarah kita bisa menghubungkan antara yang terjadi dimasa
lalu dengan dampaknya yang dirasakan siswa dalam kehidupannya saat ini
.
Daftar Pustaka
Budiningsih, C.
Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta : Rineka Cipta
Djamarah,
Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 1997. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Nasution M.A.
2009. Asas – Asas Kurikulum. Jakarta
: Bumi Aksara
Sudjana, Nana.
1998. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.
Bandung : Sinar Baru Algesindo
Surakhmad,
Winarno. 1979. Metodologi Pengajaran
Nasional. Bandung : Penerbit Jemmars
Suryosubroto, B.
1997. Proses Balajar Mengajar Di Sekolah.
Jakarta : Rineka Cipta
Ruhimat, Toto
dan Tim Pengembang MKDP Kurikulikulum dan Pembelajaran. 2006. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung :
UPI PRESS
Wahab, Abdul
Azis. 2009. Mede dan mdel-mdel Mengajar. Bandung : Alfabeta.
Witherington, H.
C. dan Burton, W.H. 1986. Teknik-teknik
Belajar Mengajar. Bandung : Penerbit Jemmars.
Langganan:
Postingan (Atom)











