Pemilu
1982 dan Pemilu 1987
Pemilu 1982 dan
Pemilu 1987 merupakan salah satu dari perhelatan akbar setiap
5 tahun untuk memilih wakil rakyat atau Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat I Provinsi
maupun DPRD Tingkat II Kabupaten/Kotamadya se-Indonesia.
Pemilu pada
masa Orde Baru bisa disebut hanya menjadi formalitas belaka untuk melegitimasi
kekuasaan rezim diktator yang berkuasa.
Soeharto yang sangat menganggungkan Pancasila menampilkan dirinya sebagai tokoh
kesatria yang selalu membela dan menjaga keutuhan Pancasila, karena dirinya
dapat naik ketampuk kekuasaan dengan menjadikan pembelaan terhadap Pancasila
sebagai batu loncatan. Maka figure
dirinya yang ingin ditampilkan pun adalah sebagai kesatria pembela Pancasila,
jadi jika ia melanggar dasar Negara maka
ia merusak citra dirinya. Karena itu Soeharto tetap mengikuti aturan yang
berlaku dengan mengadakan Pemilu. Tetapi Pemilu pada masa Orde Baru di desain
untuk selalu memenangkan Rezim yang berkuasa. Lawan-lawan politiknya
dikerdilkan agar tidak menjadi ancaman serius. Caranya adalah dengan
mengeluarkan kebijakan-kebijakan dan peraturan. Terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang dibuat untuk
menjalankan kepentingan rezim Orba. Salah satu kebijakan yang dibuat pemerintah
adalah Asas Tunggal Pancasila, kebijakan yang menerapkan Pancasila sebagai satu-satunya
asas atau ideologi ini mendapatkan kritikan dan banyak pula yang setuju dan
tidak setuju.
Kebijakan asas tunggal tidak hanya
satu-satunya kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru, ada beberapa
kebijakan sebelum asas tunggal yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru. Awal
sebelum dicetuskan Asas
tunggal dibuat kebijakan fusi partai, tahun 1973 pemerintah mengambil kebijakan
penyederhanaan partai. Menurut banyak perwira Angkatan Darat, sistem banyak partai merupakan faktor penghambat tercapainya konsensus nasional tentang dasar serta
tujuan negara. Menurut pendapat yang pro fusi partai bahwa partai-partai hanya
melakukan oposisi demi kepentingannya dan kurang memperhatikan program-program
pembangunan. Karenanya, kebijakan penyederhanaan partai merupakan alat yang
efektif untuk mengontrol partai dan memusatkan kekuaaan ditangan penguasa. Fusi
ini juga diharapkan akan menjadikan nkekutaan partai lawan menjadi
mandul.”Proses pemandulan parpol tidak hanya akibat faktor eksternal –berupa
rekayasa dan campur tangan pemerintah terhadap urusan-urusan internal
organisasi, tetapi juga saling terkait dengan faktor internal seperti lemahnya
kesatuan organisasi, dan yang terpenting adalah lemahnya kualitas anggota”
(Haris, 1998 : 163).
Sejak Golkar lahir memang tidak lepas
dari peran militer. Apabila hubungan ABRI dengan PPP dan PDI lebih banyak
diwarnai dengan intervensi terutama yang menyangkut suksesi kepemimpinan partai
dan masa-masa kampanye pemilihan umum, hubungan ABRI dan Golkar lebih banyak bersifat simbolis mutualisme
(saling menguntungkan). Bahkan dalam sturuktur politik yang di bangun selama
masa Orde Baru dapat dikatakan bahwa hubungan ABRI dan Golkar tak terpisah. Hal
ini dapat di pahami karena ABRI-lah yang membidani kelahirannya Golkar.
Selain mendominasi kepengurusan
DPP Golkar dan menjadi sumber dana bagi Golkar, dukungan militer terhadap
Golkar juga tercermin dalam banyaknya penggunaan kekerasan politik (intimidasi)
oleh aparat militer pada masa dalam pelaksanaan pemilu 1977. Kekerasan politik
yang dilakukan oleh ABRI pada pemelihan umum pada tahun 1971 dan tahun 1977
sangat menonjol jika dibandingkan dengan pemilu yang dilaksanakan pada periode
berikutnya.
Penerapan Asas Tunggal Pancasila
baru disahkan pada 1985 dan penerapannya dalam politik praktis dimulai dalam
Pemilu 1987. Penerapan Asas Tunggal Pancasila bertujuan untuk melemahkan
kekuatan Islam. Pada Pemilu 1982 pemerintah memang berhasil mereduksi jumlah
peserta pemilu, namun fusi kepada golongan Islam ternyata justru memberi jalan
bagi kekuatan-kekuatan Islam untuk bersatu, maka dari itu pemerintah berusaha
untuk memecah konsolidasi persatuan kekuatan Islam ini dengan menyusutkan
pengaruh ideologi Islam dalam tubuh partai Islamnya itu sendiri dan
menggantikannya dengan spirit
Pancasila.
Kesimpulannya baik Pemilu 1982
maupun pemilu 1987 merupakan hasil kongkrit dari kesuksesan Rezim Soeharto
dalam mengamankan kekuasaanya. Pada Pemilu 1982 pemerintahan menggunakan
strategi fusi partai untuk mengkerdilkan kekuatan lawan-lawan politiknya.
Secara tidak langsung tujuan fusi ini selain untuk mereduksi jumlah partai
peserta Pemilu tetapi juga untuk mengadu domba beberapa kekuatan serupa yang
ada dalam satu wadah partai yang sama, sehingga meskipun satu partai terdiri
dari satu persepsi tetapi memliki ideology dasar yang berbeda. Hal tersebut
sukses diterapkan pada PDI yang kekuatannya tak begitu mencuat namun justru
menjadi boomerang ketika diterapkan pada partai Islam karena justru PPP menjadi
semakin solit dengan kekuatan Islam yang disatukan. Maka untuk melemahkan
kekuatan Islam pemerintah mengeluarkan kebijakan Asas Tunggal Pancasila dimana
seluruh partai dipaksa untuk menjadikan Pancasila sebagai asas atau ideologi
partainya. Hal ini tidak hanya berlaku pada partai politik tetapi juga untuk
semuluruh organisasi di Indonesia. Hasilnya pada Pemilu 1987 PPP mengalami
penyusutan suara yang signifikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar