Bab I.
Pendahuluan
Latar belakang
Masa
– masa revolusi adalah saat – saat perjuangan bangsa Indonesia
yang paling menentukan dalam perjalanan kemerdekaannya.
Setelah
proklamasi dibacakan maka bangsa Indonesia memiliki dua tugas
pokok penting, yakni menyebarkan
dan mengkonsolidasikan kemerdekaan
bangsa dan yang kedua mempertahankan kemerdekaan
dari upaya Belanda yang ingin kembali
menjajah Indnesia.
Kondisi
geografis Indonesia sangat luas dan terbagi kedalam ribuan pulau, hal itulahyang
menyebabkan
informasi mengenai proklamasi tak dapat serta
merta
diketahui
oleh masyarakatyang berada didaerah, utamanya
diluar Jawa.Bahkan saat berita mengenai proklamasi itu
didengar pun terdapat keraguan mengenai
kebenarannya.
Di
Sulawesi informasi mengenai proklamasi pertama kali diketahui di
Minahasa lewat seorang pegawai telegrafis yang
bekerja kepada pemerintahan pendudukan Jepang, A.S. Rombot,
ia kemudian mengabarkan berita ini kepada para tokoh nasinalis disana.
Berita
mengenai proklamasi itu kemudian membakar semangatjuang
dari golongan nasionalis disana, selanjutnya informasi mengenai proklamasi
pun semakin cepat menyebar dari mulut ke mulut.
Sejak
awal Jepang berusaha menyembunyikan berita
kekalahannya dan proklamasi yang dibacakan di Jakarta
kepada rakyat
Sulawesi, hal itu agar tidak menimbulkan chaos dan penyerangan
terhadap
tentara
dan orang – orang Jepang yang ada disana, selain itu
juga Jepang harus mempertahankan status
quo
hingga pasukan sekutu datang. Namun informasi yang bocor mengenai
kemerdekaan Indonesia akhirnya menimbulkan kehebohan di masyarakat.Bentrok
antara
pemuda pejuang dengan tentara dan polisi Jepang pun tak
dapatterhindarkan.Para
pemuda berupaya unuk merebut senjata
– senjata dari Jepang sembari mengkonsolidasikan kekuatan,
mereka terbagi ke dalam kelompok laskar – laskar
perjuangan.Perjuangan rakyat Sulawesi baru “benar – benar dimulai” ketika
pasukan sekutu datang.
Tulisan
ini mencoba untuk mengkaji mengenai perjuangan rakyat
Sulawesi Utara pada masa revolusi. Mengingat
luasnya
wilayah
kajian dan pembahasan maka penulis akanmembatasi makalah ini ke
dalam beberapa rumusan masalahdi bawah ini.
Rumusan masalah
·
Bagaimana keadaan sosial politik
masyarakat
Sulawesi Utara pada masa – masa sebelum dan sesudah proklamasi
Republik Indonesia hingga kedatangan sekutu disana?
·
Bagaimana keadaan sosial politik
di daerah Sulawesi Utara pada masa pendudukan NICA?
·
Bagaimana proses perjuangan rakyat
Sulawesi Utara menghadapi pendudukan NICA?
Bab II.
Pembahasan
Keadaan Sosial Politik pada masa-masa
sebelum dan sesudah proklamasi.
Sebelum
Indonesia merdeka pada 1945, wilayah Indonesia dikuasai oleh tentara pendudukan
Jepang yang berkuasa pada 1942 hingga pada 14 Agustus Jepang menyerah tanpa
syarat kepada sekutu setelah sebelumnya pada 6 dan 9 Agustus kota Hirosima dan
Nagasaki di bom atom oleh pasukan sekutu.
Pada
periode masa pendudukan Jepang di Sulawesi UtaraSulawesi adalah pulau pertama
yang diserbu Jepang ketika mengadakan “Operasi Selatan” yang berawal dengan
pendudukan kota Manado pada 11 Januari 1942. Sulawesi berada diwilayah
kekuasaan Angkatan Laut Jepang Wilayah yang membentuk pemerintahan Minseifu
dengan ibu kota Makassar. Sistem pemerintahan terbagi dalam beberapa wilayah
distrik, dan setiap distrik dipimpin oleh Hukum Besar.Masing-masing Hukum Besar
membawahi beberapa kecamatan dan di pimpin oleh Hukum Kedua yang menangani
beberapa kelurahan.Setiap kelurahan terbagi dalam berbagai Jaga (Rukun
Tetangga) di bawah pimpinan Kepala Jaga didampingi pemuka-pemuka masyarakat.
Beria
mengenai Prklamasi kemerdekaan Indnesia di Minahasa peramakali dikeahui leh
se0rang pegawai elegrafis ang bekerja kepada pemerinahan pendudukan Jepang,
A.S. R0mb07 ang kemudian mengabarkan beri7a ini kepada para 7kh nasinalis
disana.
Sulawesi Utara pada masa pendudukan
NICA
Segera
setelah berita Proklamasi RI sampai di Sulawesi Utara, pemuda membentuk
organisasi pemuda dan memelopori pembentukan pemerintahan pro-Republik.Pihak
Manado Force ketika mendarat di Manado dan berbagai wilayah di Sulawesi Utara,
menyadari bahwa kekuasaan berada di tangan pemuda “Organisasi pro RI yang
didirikan dalam periode ini salah satunya organisasi pemuda nasionalis yang
dinamakan Kebaktian Rakyat Indonesia Sosial atau KRIS” (Suwondo dkk, 1983:
152).
Pada
tanggal 9 Maret 1948 pemerintahan kolonial menghapuskan status pemerintahan
NICA dan didirikan Pemerintahan Federal Sementara yang dipimpin oleh Letnan
Gubernur Jenderal , DR. H.J. van Mook. Pemerintah Federal Sementara ini
mengakui dan mengikutsertakan semua Negara bagian yang terbentuk sebelumnya,
kecuali RI. Dari sudut pandang pemerintah federal ini maka RI diakui hanya
berkuasa de facto atas Jawa dan Sumatera sesuai persetujuan Linggarjati yang
ditegaskan lagi dalam perjanjian Renville kemudian, dimana RI hanya diakui sederajat
dengan NIT, NST, dan lain-lain yang dibentuk Belanda. Hal ini ditentang
mati-matian oleh RI baik melalui perundingan maupun dengan kekuatan militer,
karena sama sekali tidak sesuai dengan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945
(Suwondo, 1983: ).
Pemerintah
NIT dipimpin oleh Perdana Menteri Ide anak Agung Gede Agung merangkap Menteri dalam negeri yang memimpin 15
anggota kabinet lainnya
Pada
21 Juli 1946 tentara Belanda melakukan operasi militer yang dikenal sebagai
operasi produk.Pasukan Belanda menerang wilaahwilaah Republik.Eruama di
daerah-daerah subur seperi Jawa dan Sumaera “Daerah Sulawesi Utara secara
geografis memang letaknya jauh terpisah dari Jawa dan Sumatera, tetapi daerah
ini secara tidak langsung turut menderita akibat tindakan-tindakan Belanda
dalam rangka aksi militernya” (Suwondo, 1983: 148).
“Dipihak
lain, menghadapi tekanan yang semakin berat dari pihak Belanda. Para pejuang RI
di daearah ini membentuk organisasi kelaskaran bernama Laskar Rakyat Republik
Indonesia (LRRI) pada tanggal 10 Februari 1947, dipelopori oleh F.H.L.V.
Mondong, Nona gusta Ngantung, P.M. Simangunsong, R. Lungdong, Arsjad Buchary,
Junus Oflagi, H.M. Taulu dan kawan-kawannya”(Suwondo, 1983: 148).
“Dengan
demikian kalau untuk perjuangan gerilya ada LRRI, maka untuk perjuangan pemuda
dalam bidang politik ada KRIS.KRIS berhasil mendirikan cabang-cabangnya di
Manado, Tomohon, Tandano, Sonder, Tompaso, Amurang, Airmadidi dan tempat-tempat
lainnya di Minahasa”(Suwondo dkk, 1983: 153).
Dengan
mulai mantapnya pemerintahan NICA maka Belanda mulai menjalankan kembali
diskriminasi, khususnya bagi anggota militernya berbangsa Indonesia yang
jaminan sosialnya dibeda-bedakan denmgan yang berkebangsaan Belanda. Hal ini
menimbulkan ketidakpuasan dikalangan para anggota KNIL , namun mereka belum
dapat bertindak karena sedang mencari dukungan dari rakyat. Ketika para anggota
KNIL itu dihubungi oleh pimpinan pemuda nasionalis dari PPI maka disusunlah
rencana untuk memberontak terhadap Belanda. Keyakinan itu diperteguh lagi ketika
seorang pemuda yang berhasil menyusup ke dalam dinas militer NICA (Kopral A. S.
Rombot dan Kopral W.F. Sumanti) menghubungi
Sersan Ch. Ch. Taulu tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan usaha
untuk merebut kekuasaan NICA waktu itu. (Suwondo dkk, 1983: ).
Namun
pemerintahan NICA mulai mencurigai pergerakan para pemuda ini.Petinggi-petinggi
militer mulai mendengar kabar mengenai adanya kompolotan pemberontak di dalam
tubuh KNIL.Komplotan militer KNIL di Teling masih dicurigai oleh bagian intel
NEFIS dan panglima KNIL yang bermarkas di Tomohon memerintahkan supaya menahan
dalam ‘’streng arrest’’ di Teling para pemimpinnya, yakni Furir Taulu, Sersan
Wuisan, Wangko Sumanti, Frans Lantu, Yan Sambuaga dan Wim Tamburian, karena
mereka telah menghasut tentara Indonesia dari kompi-kompi di Teling, Tomohon
dan di Girian supaya berontak karena kekurangan gaji, ransun, rokok, berbeda
dengan jaminan yang terima oleh sesama tentara bangsa Belanda. Apalagi tentara
Indonesia yang berpegang di bawah pimpinan Sekutu dalam Perang Dunia II
dihargai dan dijamin sama terhadap seluruh pasukan.Belanda tidak mengetahui
bahwa hasutan-hasutan di seluruh kalangan militer Indonesia hanyalah untuk
menutupi rahasia yang bertujuan sebenarnya untuk menggulingkan kekuasaan
Belanda dan menegakkan kemerdekaan Indonesia.
Khusus
Kompi-VII bekas Pasukan Sekutu yang terkenal pemberani dan menjadi tumpuan
harapan pimpinan KNIL tidak diduga Belanda telah dapat dipengaruhi, bahkan
komandan peleton I Kopral Mambi Runtukahu telah ditunjuk oleh Taulu dan Wuisan
untuk memulaikan aksi penyergapan pos-pos di markas garnisun Teling-Manado
tepat nanti pada jam satu tengah malam. Dan menangkap semua tentara Belanda,
mulai dengan komandan garnisun Kapten Blom, komandan Kompi-VII Carlier, CPM dan
seterusnya di Kota Manado. Hal ini telah berlangsung sesuai rencana rahasia
dari Taulu-Wuisan.
Tidak
ada perlawanan, karena semua tentara Indonesia yang tidak termasuk Pasukan
Tubruk hanya menganggap bahwa pemberontakan militer ini hanya perlu untuk
menuntut keadilan serta perbaikan nasib dan jaminan yang sama bagi tentara
Indonesia. Ketiga pimpinan Taulu, Wuisan dan Lumanauw dibebaskan dari tahanan
dan semua tentara Belanda ditampung sementara oleh Kopral Wim Tamburian dalam
satu gedung di Teling.Keluarga mereka di berbagai kompleks militer tidak diapa-apakan
tetapi mereka semua akhirnya dikumpulkan di Sario.
Kaum
nasionalis yang ditangkap NICA karena dituduh kolaborator Jepang seperti Nani
Wartabone, OH Pantouw, Geda Dauhan, yang berada di penjara termasuk pimpinan
pemuda BPNI, John Rahasia dan Chris Ponto yang berniat memberontak pada Januari
yang lalu, semuanya dibebaskan oleh aksi militer Kompi-VII.
Frans
Bisman dan Freddy Lumanauw berangkat dengan dua peleton pada pagi hari ke
markas besar KNIL di Tomohon untuk menangkap komandan KNIL De Vries dan Residen
NICA Koomans de Ruyter.Kemudian satu regu pemberontak militer dari Manado
menuju ke Girian-Tonsea untuk menahan Letnan Van Emden, komandan kompi yang
menjaga kamp tawanan Jepang.Mula-mula mereka alami kesulitan tetapi Kumaunang
dapat menangkapnya dengan cepat.
Kapten
KNIL J Kaseger yang selama ini non-aktif di Tondano dan sedang memulihkan
kesehatannya karena penderitaan selama ditahan tentara Jepang, tidak menyangka
berhasilnya kup militer Indonesia terhadap atasannya Belanda.Ia segera ke Manado
dan Furir Taulu, Sersan Wuisan dan Sersan Nelwan mengajaknya untuk mengambil
alih pimpinan pemberontakan karena pangkatnya yang lebih tinggi. Kaseger adalah
tamatan Akademi Militer di Breda, Belanda, dan apa salahnya ia sebagai orang
Indonesia melepaskan sumpah kesetiannya pada Ratu Belanda dan ikut dalam
perjuangan kemerdekaan bangsanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar