Selasa, 19 Juni 2018

perjuangan revolusi di sulawesi Utara


Bab I.
Pendahuluan

Latar belakang
Masa – masa revolusi adalah saat – saat perjuangan bangsa Indonesia yang paling menentukan dalam perjalanan kemerdekaannya. Setelah proklamasi dibacakan maka bangsa Indonesia memiliki dua tugas pokok penting, yakni menyebarkan dan  mengkonsolidasikan kemerdekaan bangsa dan yang kedua mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda yang ingin kembali menjajah Indnesia.
Kondisi geografis Indonesia sangat luas dan terbagi kedalam ribuan pulau, hal itulahyang menyebabkan informasi mengenai proklamasi tak dapat serta merta diketahui oleh masyarakatyang berada didaerah, utamanya diluar Jawa.Bahkan saat berita mengenai proklamasi itu didengar pun terdapat keraguan mengenai kebenarannya.
Di Sulawesi informasi mengenai proklamasi pertama kali diketahui di Minahasa lewat seorang pegawai telegrafis yang bekerja kepada pemerintahan pendudukan Jepang, A.S. Rombot, ia kemudian mengabarkan berita ini kepada para tokoh nasinalis disana. Berita mengenai proklamasi itu kemudian membakar semangatjuang dari golongan nasionalis disana, selanjutnya informasi mengenai proklamasi pun semakin cepat menyebar dari mulut ke mulut.
Sejak awal Jepang berusaha menyembunyikan berita kekalahannya dan proklamasi yang dibacakan di Jakarta kepada  rakyat Sulawesi, hal itu agar tidak menimbulkan chaos dan penyerangan terhadap tentara dan orang – orang Jepang yang ada disana, selain itu juga Jepang harus mempertahankan status quo hingga pasukan sekutu datang. Namun informasi yang bocor mengenai kemerdekaan Indonesia akhirnya menimbulkan kehebohan di masyarakat.Bentrok antara pemuda pejuang dengan tentara dan polisi Jepang pun tak dapatterhindarkan.Para pemuda berupaya unuk merebut senjata – senjata dari Jepang sembari mengkonsolidasikan kekuatan, mereka terbagi ke dalam kelompok laskar – laskar perjuangan.Perjuangan rakyat Sulawesi baru “benar – benar dimulai” ketika pasukan sekutu datang.
Tulisan ini mencoba untuk mengkaji mengenai perjuangan rakyat Sulawesi Utara pada masa revolusi. Mengingat luasnya wilayah kajian dan pembahasan maka penulis akanmembatasi makalah ini ke dalam beberapa rumusan masalahdi bawah ini.
Rumusan masalah
·         Bagaimana keadaan sosial politik masyarakat Sulawesi Utara pada masa – masa sebelum dan sesudah proklamasi Republik Indonesia hingga kedatangan sekutu disana?
·         Bagaimana keadaan sosial politik di daerah Sulawesi Utara pada masa pendudukan NICA?
·         Bagaimana proses perjuangan rakyat Sulawesi Utara menghadapi pendudukan NICA?

Bab II.
Pembahasan

Keadaan Sosial Politik pada masa-masa sebelum dan sesudah proklamasi.
Sebelum Indonesia merdeka pada 1945, wilayah Indonesia dikuasai oleh tentara pendudukan Jepang yang berkuasa pada 1942 hingga pada 14 Agustus Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah sebelumnya pada 6 dan 9 Agustus kota Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh pasukan sekutu.
Pada periode masa pendudukan Jepang di Sulawesi UtaraSulawesi adalah pulau pertama yang diserbu Jepang ketika mengadakan “Operasi Selatan” yang berawal dengan pendudukan kota Manado pada 11 Januari 1942. Sulawesi berada diwilayah kekuasaan Angkatan Laut Jepang Wilayah yang membentuk pemerintahan Minseifu dengan ibu kota Makassar. Sistem pemerintahan terbagi dalam beberapa wilayah distrik, dan setiap distrik dipimpin oleh Hukum Besar.Masing-masing Hukum Besar membawahi beberapa kecamatan dan di pimpin oleh Hukum Kedua yang menangani beberapa kelurahan.Setiap kelurahan terbagi dalam berbagai Jaga (Rukun Tetangga) di bawah pimpinan Kepala Jaga didampingi pemuka-pemuka masyarakat.
Beria mengenai Prklamasi kemerdekaan Indnesia di Minahasa peramakali dikeahui leh se0rang pegawai elegrafis ang bekerja kepada pemerinahan pendudukan Jepang, A.S. R0mb07 ang kemudian mengabarkan beri7a ini kepada para 7kh nasinalis disana.
Sulawesi Utara pada masa pendudukan NICA
Segera setelah berita Proklamasi RI sampai di Sulawesi Utara, pemuda membentuk organisasi pemuda dan memelopori pembentukan pemerintahan pro-Republik.Pihak Manado Force ketika mendarat di Manado dan berbagai wilayah di Sulawesi Utara, menyadari bahwa kekuasaan berada di tangan pemuda “Organisasi pro RI yang didirikan dalam periode ini salah satunya organisasi pemuda nasionalis yang dinamakan Kebaktian Rakyat Indonesia Sosial atau KRIS” (Suwondo dkk, 1983: 152).
Pada tanggal 9 Maret 1948 pemerintahan kolonial menghapuskan status pemerintahan NICA dan didirikan Pemerintahan Federal Sementara yang dipimpin oleh Letnan Gubernur Jenderal , DR. H.J. van Mook. Pemerintah Federal Sementara ini mengakui dan mengikutsertakan semua Negara bagian yang terbentuk sebelumnya, kecuali RI. Dari sudut pandang pemerintah federal ini maka RI diakui hanya berkuasa de facto atas Jawa dan Sumatera sesuai persetujuan Linggarjati yang ditegaskan lagi dalam perjanjian Renville kemudian, dimana RI hanya diakui sederajat dengan NIT, NST, dan lain-lain yang dibentuk Belanda. Hal ini ditentang mati-matian oleh RI baik melalui perundingan maupun dengan kekuatan militer, karena sama sekali tidak sesuai dengan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 (Suwondo, 1983: ).
Pemerintah NIT dipimpin oleh Perdana Menteri Ide anak Agung Gede Agung merangkap   Menteri dalam negeri yang memimpin 15 anggota kabinet lainnya

Pada 21 Juli 1946 tentara Belanda melakukan operasi militer yang dikenal sebagai operasi produk.Pasukan Belanda menerang wilaahwilaah Republik.Eruama di daerah-daerah subur seperi Jawa dan Sumaera “Daerah Sulawesi Utara secara geografis memang letaknya jauh terpisah dari Jawa dan Sumatera, tetapi daerah ini secara tidak langsung turut menderita akibat tindakan-tindakan Belanda dalam rangka aksi militernya” (Suwondo, 1983: 148).


“Dipihak lain, menghadapi tekanan yang semakin berat dari pihak Belanda. Para pejuang RI di daearah ini membentuk organisasi kelaskaran bernama Laskar Rakyat Republik Indonesia (LRRI) pada tanggal 10 Februari 1947, dipelopori oleh F.H.L.V. Mondong, Nona gusta Ngantung, P.M. Simangunsong, R. Lungdong, Arsjad Buchary, Junus Oflagi, H.M. Taulu dan kawan-kawannya”(Suwondo, 1983: 148).   

“Dengan demikian kalau untuk perjuangan gerilya ada LRRI, maka untuk perjuangan pemuda dalam bidang politik ada KRIS.KRIS berhasil mendirikan cabang-cabangnya di Manado, Tomohon, Tandano, Sonder, Tompaso, Amurang, Airmadidi dan tempat-tempat lainnya di Minahasa”(Suwondo dkk, 1983: 153).

Dengan mulai mantapnya pemerintahan NICA maka Belanda mulai menjalankan kembali diskriminasi, khususnya bagi anggota militernya berbangsa Indonesia yang jaminan sosialnya dibeda-bedakan denmgan yang berkebangsaan Belanda. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan dikalangan para anggota KNIL , namun mereka belum dapat bertindak karena sedang mencari dukungan dari rakyat. Ketika para anggota KNIL itu dihubungi oleh pimpinan pemuda nasionalis dari PPI maka disusunlah rencana untuk memberontak terhadap Belanda. Keyakinan itu diperteguh lagi ketika seorang pemuda yang berhasil menyusup ke dalam dinas militer NICA (Kopral A. S. Rombot dan Kopral W.F. Sumanti) menghubungi  Sersan Ch. Ch. Taulu tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan usaha untuk merebut kekuasaan NICA waktu itu. (Suwondo dkk, 1983: ).
Namun pemerintahan NICA mulai mencurigai pergerakan para pemuda ini.Petinggi-petinggi militer mulai mendengar kabar mengenai adanya kompolotan pemberontak di dalam tubuh KNIL.Komplotan militer KNIL di Teling masih dicurigai oleh bagian intel NEFIS dan panglima KNIL yang bermarkas di Tomohon memerintahkan supaya menahan dalam ‘’streng arrest’’ di Teling para pemimpinnya, yakni Furir Taulu, Sersan Wuisan, Wangko Sumanti, Frans Lantu, Yan Sambuaga dan Wim Tamburian, karena mereka telah menghasut tentara Indonesia dari kompi-kompi di Teling, Tomohon dan di Girian supaya berontak karena kekurangan gaji, ransun, rokok, berbeda dengan jaminan yang terima oleh sesama tentara bangsa Belanda. Apalagi tentara Indonesia yang berpegang di bawah pimpinan Sekutu dalam Perang Dunia II dihargai dan dijamin sama terhadap seluruh pasukan.Belanda tidak mengetahui bahwa hasutan-hasutan di seluruh kalangan militer Indonesia hanyalah untuk menutupi rahasia yang bertujuan sebenarnya untuk menggulingkan kekuasaan Belanda dan menegakkan kemerdekaan Indonesia.

Khusus Kompi-VII bekas Pasukan Sekutu yang terkenal pemberani dan menjadi tumpuan harapan pimpinan KNIL tidak diduga Belanda telah dapat dipengaruhi, bahkan komandan peleton I Kopral Mambi Runtukahu telah ditunjuk oleh Taulu dan Wuisan untuk memulaikan aksi penyergapan pos-pos di markas garnisun Teling-Manado tepat nanti pada jam satu tengah malam. Dan menangkap semua tentara Belanda, mulai dengan komandan garnisun Kapten Blom, komandan Kompi-VII Carlier, CPM dan seterusnya di Kota Manado. Hal ini telah berlangsung sesuai rencana rahasia dari Taulu-Wuisan.

Tidak ada perlawanan, karena semua tentara Indonesia yang tidak termasuk Pasukan Tubruk hanya menganggap bahwa pemberontakan militer ini hanya perlu untuk menuntut keadilan serta perbaikan nasib dan jaminan yang sama bagi tentara Indonesia. Ketiga pimpinan Taulu, Wuisan dan Lumanauw dibebaskan dari tahanan dan semua tentara Belanda ditampung sementara oleh Kopral Wim Tamburian dalam satu gedung di Teling.Keluarga mereka di berbagai kompleks militer tidak diapa-apakan tetapi mereka semua akhirnya dikumpulkan di Sario.

Kaum nasionalis yang ditangkap NICA karena dituduh kolaborator Jepang seperti Nani Wartabone, OH Pantouw, Geda Dauhan, yang berada di penjara termasuk pimpinan pemuda BPNI, John Rahasia dan Chris Ponto yang berniat memberontak pada Januari yang lalu, semuanya dibebaskan oleh aksi militer Kompi-VII.

Frans Bisman dan Freddy Lumanauw berangkat dengan dua peleton pada pagi hari ke markas besar KNIL di Tomohon untuk menangkap komandan KNIL De Vries dan Residen NICA Koomans de Ruyter.Kemudian satu regu pemberontak militer dari Manado menuju ke Girian-Tonsea untuk menahan Letnan Van Emden, komandan kompi yang menjaga kamp tawanan Jepang.Mula-mula mereka alami kesulitan tetapi Kumaunang dapat menangkapnya dengan cepat.

Kapten KNIL J Kaseger yang selama ini non-aktif di Tondano dan sedang memulihkan kesehatannya karena penderitaan selama ditahan tentara Jepang, tidak menyangka berhasilnya kup militer Indonesia terhadap atasannya Belanda.Ia segera ke Manado dan Furir Taulu, Sersan Wuisan dan Sersan Nelwan mengajaknya untuk mengambil alih pimpinan pemberontakan karena pangkatnya yang lebih tinggi. Kaseger adalah tamatan Akademi Militer di Breda, Belanda, dan apa salahnya ia sebagai orang Indonesia melepaskan sumpah kesetiannya pada Ratu Belanda dan ikut dalam perjuangan kemerdekaan bangsanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar